Jambore Ranting yang Penuh Suka Duka
Pada saat aku
masih SMP kelas 1 tahun 2015, guru olahragaku sekaligus pembina pramuka di
sekolahku memberikan kabar pada kami kelas 1 dan kelas 2 bahwa akan diadakan
Jambore Ranting Kwartir Ranting Kalidoni di Bumi Perkemahan Candradimuka.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 27-29 Maret 2015, kelas 3 pada saat
itu sedang ujian praktek dan akan menghadapi UN tidak diperbolehkan untuk ikut
kegiatan tersebut agar mereka fokus pada UN. Aku yang mendengar hal itu merasa
sangat antusias, seluruh teman-temanku pun begitu, karena biasanya kegiatan
kemah kami hanya di halaman sekolah saja. Kami semua sudah membayangkan
bagaimana nanti kami ikut Jambore tersebut dan melakukan banyak hal seru
bersama-sama. Setibanya aku dirumah, aku langsung mengabari Bunda dan Ayah
bahwa aku ingin ikut Jambore itu. Bunda dan Ayah langsung mengiyakan
perkataanku. Tapi setelah itu, aku berpikir apakah aku sanggup untuk ikut
kegiatan itu sehinnga akupun menyampaikan keraguanku pada Bunda. Kemudian Bunda
dengan semangat menceritakan masa SMPnya kala itu ia juga mengikuti Jambore
tapi sudah tingkat nasional, ia bercerita bahwa kegiatan itu dilaksananakan
sekitar satu bulan lamanya di daerah Cibubur. Ribuan orang dari seluruh
Indonesia yang telah diseleksi berkumpul disana untuk Jambore Nasional, “bunda
ketemu banyak orang disana dari berbagai daerah” cerita Bunda. Banyak cerita
yang Bunda sampaikan padaku, membuatku menjadi semakin semangat dan melupakan
keraguanku untuk ikut Jambore itu walau hanya tingkat kecamatan.
Hari itu pun
tiba, yang ikut kegiatan ini hanya tujuh orang, 3 laki-laki dan 4 perempuan
beserta 2 guru pendamping. Kami berkumpul di sekolah terlebih dahulu, rasa
tidak sabar telah memenuhi dada kami, ekspektasi yang sudah terkumpul di
pikiran semakin mebayangi kami semua sejalan dengan semakin dekatnya kami
dengan tempat perkemahan. Sesampainya disana, kami langsung menurunkan
barang-barang dari mobil, setelah sedikit berbincang-bincang kami berpamitan
dengan beberapa orang tua kami yang ikut mengantar. Tenda perempuan dan tenda
laki-laki bersebrangan terpisah oleh jalan utama tempat itu. Dengan gerimis
yang menemani, kami membangun tenda yang akan menjadi tempat kami tinggal
selama beberapa hari. Tenda kami akhirnya berdiri dengan jerih payah. Tiba tiba
terdengar suara yang menandakan bahwa kami akan melakukan upacara pembukaan,
sontak kami buru-buru masuk kedalam tenda untuk melengkapi atribut seragam
pramuka kami. Upacara selesai ketika matahari sudah akan tenggelam, setelah
berganti baju kami semua berkumpul di dekat dapur tenda perempuan yang memang
dijadikan seolah-olah ruang tamu. Berbagai cerita kami tuang di malam itu,
mulai dari cerita lucu hingga cerita seram, kami yang saat itu masih anak-anak
malah ketakutan sendiri mendengar cerita-cerita itu. Larut dalam cerita hingga
kami tak sadar bahwa waktu sudah menunjukkan jam 1 malam. Aku dan yang lain
kemudian beranjak masuk kedalam tenda dan menyusun posisi yang nyaman untuk
kami tidur.
Esok hari, kami
bangun untuk memasak sarapan kami semua. Karena belum membeli bahan makan,
kedua guru kami pergi untuk membeli bahan makan hari ini dan besok. Aku pun
berinisiatif untuk memasak mi instan terlebih dahulu karena teman-temanku yang
laki-laki sudah merasa sangat lapar. Aku dan yang lainpun langsung memasak mi
instan dan memanggil yang lain untuk sarapan bersama. Mi tersebut mendapat
protes dari yang laki-laki karena kata mereka mi tersebut tidak ada rasa, kami
yang mendengar hal itu pun marah pada mereka. Siang harinya, kegiatan lomba pun
dimulai. Sekolah kami mengikuti lomba mengibarkan bendera, lomba merangkai
gambar, dan lomba mengingat lambang-lambang pramuka. Aku dan seorang temanku
mengikuti lomba mengingat lambang, kami duduk di bawah pohon dekat lokasi lomba
kami sembari menunggu dipanggil. Dengan lembaran berisi lambang-lambang pramuka
dipangkuan aku kembali mengulang hapalanku pada lambang-lambang tersebut.
Setelah kembali ke tenda tempat kami berkumpul ternyata mama Dimas, salah satu
temanku datang kesana membawakan kami eskrim dari salah satu restoran cepat
saji. Kami pun bercerita dengan mama Dimas bahwa kami belum mandi dari kemarin
karena air yang ada di toilet umum tersebut berminyak dan kotor. Mendengar hal
itu Mama Dimas teringat bahwa ada seorang temannya yang tinggal di dekat situ.
“temen tante ada yang tinggal di deket sini kalo gak salah, kita izin numpang
mandi disana aja kalo gak” ucap Mama Dimas pada kami. Tapi kami ragu apakah
kami dipebolehkan untuk keluar dari daerah perkemahan itu. Dengan setengah
yakin kami menyiapkan peralatan mandi dan baju ganti kami, berjalan dibelakang
mengikuti langkah Mama Dimas menuju jalan keluar perkemahan itu. Ternyata kakak
pembina yang menjaga pintu gerbang hanya melihat saja membiarkan kami lewat. Dengan
senang kami berjalan menuju rumah teman Mama Dimas yang rupanya lumayan jauh,
sekitar 1 KM dari perkemahan. Setelah sampai disana ternyata rumah tersebut
sedang mengadakan yasinan, dengan sedikit malu dan tidak enak hati kami meminta
izin untuk madi di rumahnya. Setelah merasa bersih dan segar kamipun segera
kembali ke perkemahan.
Malamnya,
diadakan acara unjuk bakat. Semua duduk melingkari api unggun yang besar dan
tinggi. Disanalah aku menemukan banyak teman-teman baru, ya walaupun tidak
berkenalan secara langsung tapi aku merasa bahwa mereka temanku dan aku teman
mereka. Lumayan lama kami berada disana, kemudian kami beranjak menuju tenda
dan ternyata ada beberapa guru kami yang datang singgah kesana. Mereka datang
berencana untuk bakar bakaran, sudah ada ayam yang dibumbui di dekat api unggun
kecil yang mereka buat. Akhirnya kami pun makan bersama sama disana sampai
larut malam.
Keesokan pagi,
adalah hari terakhir kami disana. Siang nanti kami sudah akan pulang kerumah
masing-masing. Disaat itulah kami semua membereskan semua pakaian dan
perlengkapan lain yang kami bawa kesana. Tiba-tiba, muncul banyak monyet kecil
yang masuk kedalam area perkemahan dari balik tembok pembatas. Seketika kami
pun berlari menjauhi monyet-monyet tersebut sambil tertawa. Kemudian Dimas
menunjuk salah satu monyet sambil menyebut nama teman kami dan berkata mengapa
dia ada disini. Kami pun sontak tertawa lebar mendengar ucapannya, tidak sopan
mungkin jika dilihat orang lain, tapi itulah kami. Upacara penutupan tiba
serentak dengan penguman perlombaan, dan aku memenangkan lomba yang aku ikuti
kemarin, dengan senyum lebar aku dan temanku maju mengambil piala.
Siang hari,
waktunya kami pulang. Dijemput orang tua masing-masing kami memasuki mobil
dengan senyum lebar membawa cerita penuh suka duka yang mungkin akan kami
sampaikan pada orang tua masing masing dengan bangga. Pesan yang dapat
kusimpulkan disini adalah jangan ragu untuk mencoba hal baru selagi itu
positif, karena hal baru meberikan kenangan baru, pengalaman baru, dan teman
baru.
Komentar
Posting Komentar